Example, Format and Systematics of Book Resume Tasks, Islamic Education Courses.

Contoh Format dan Sistematika Tugas Resume Buku, Mata Kuliah Pendidikan Islam
---

Journal.My.Id,- Halo Mr. Journal. The assignment is one that must be fulfilled by every student, be it elementary, secondary, high school or college level. Therefore students should complete the task as well as possible so that the learning process is not choked up.

As with the Resume Book of this Book, complete it as much as possible, so don't hesitate to look at examples like the one below. But even so do not make this example as the final benchmark, because it does not rule out the tasks shared in this paper there are still shortcomings and errors.

In this book resume assignment, I resumed from  "QQ (Quranic Quotient) Membangun Generasi Qurani yang Mandiri" book by the author Yunus Hanis Syam.

Personal Doc.
Quranic Quotient Book.


RESUME BUKU
(Resume Book)
  • Nama: Jawwad Azka Karim
  • Prodi: Pendidikan Agama Islam
  • Mata Kuliah: Ilmu Pendidikan Islam
  • Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. M. Djaswidi Al Hamdani, M.Pd.
  • --------

  • Judul Buku: QQ (Quranic Quotient), Membangun Generasi Qurani yang Mandiri
  • Penulis/Pengarang: Yunus Hanis Syam
  • Penerbit: Progresif Books
  • Tahun Terbit: 2006
  • Kota Terbit: Yogyakarta
  • Jumlah Halaman: 178
  • ISBN: 979-1137-01-3

BAB I (Chapter I)
SANG BUAH HATI DAN PEMBEKALANNYA.

Anak diharapkanbisa menjadi pelindung dan penjaga nama baik keluarga. Juga bisa menangkat nama dan kedudukan keluarga. Dan kaitannya dalam hal ini adalah dari segi manfaat yang akan didapat. Bagaimana anak bisa bermanfaat dalam kelangsungan kehidupan berkeluarga, yaitu seperti yang dikatakan dalam agama bahwa anak yang shaleh itu adalah salah satu jariyah, yang menjadi penyebab selamat kedua orangtuanya. 

Disinilah letak kemuliaan dan kehormatan keluarga yang memiliki anak dalam bahtera rumah tangganya. Kemuliaan dan kehormatan yang dirasakan pada saat hidup di dunia, maupun kemuliaan yang akan diterima pada saat di akhirat nanti.

BAB II (Chapter II)
MENDIDIK ANAK YANG ISLAMI

Dalam memahami permasalahan pendidikan secara mendalam, setidaknya kita melihat dahulu pengertian, hakikat, dan tujuannya. Prof. Dr. Kamal Hasan dalam hal ini memberikan gambaran tentang pendidikan dalam perspektif islam ialah sebagai proses seumur hidup untuk mempersiapkan seseorang agar dapat mengaktualisasikan perannya sebagai khalifatullah di bumi. Muhammad Athiyah Al Ibrasy seorang pakar pendidikan muslim Arab menyampaikan sebuah definisi tentang pendidikan, adalah usaha mempersiapkan anak didik agar hidupnya sempurna dan bahagia, cinta tanah air, kuat badannya dan sempurna amal perbuatannya.

       Dari beberapa pengertian yang diungkapkan, didapatkan sebuah hakikat pendidikan yakni upaya secara sadar dari manusia untuk meningkatkan kualitas seutuhnya, seimbang antara jasmani dan rohani yang berbudi pekerti luhur, terampil, cerdas dan bertanggungjawab kepada islam, masyarakat dan bangsa. Dapat dipahami bahwa pendidikan merupakan implikasi dari iman dan taqwa kepada Tuhan sebagai landasan orientasi yang oleh Prof. Ashraf diistilahkan dengan “Faith based education” atau “Faith oriented education”.

KONSEP PENDIDIKAN MENURUT ISLAM

Islam sebagai ideologi yang menghubungkan manusia dengan penciptanya tetap memberikan peluang kepada perbaikan hidup di dunia. Ideologi ini mengajarkan kepada manusia untuk menjelajahi dunia dengan jasmaninya dan menapaki langit dengan ruhnya. Hidup di dua alam, bumi dan langit tanpa ada pemisah diantara keduanya.

Islam adalah satu agama yang sempurna. Disebut sempurna salah satu sebabnya adalah bahwa pendidikan terhadap kehidupan anak-anak yang sangat diperhatikan. Islam sendiri mengajarkan sebaiknya proses pendidikan dilakukan saat masih di rahim ibu.

Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.” (QS. Luqman ayat 14)

Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah juga. Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.” (QS. Al-Ahqab ayat 15)

Dimasa inilah saat yang baik untuk menanamkan kebiasaan baik terhadap anak. Mengajarkan shalat, memberikan pemahaman bahwa pelaksanaan shalat adalah suatu bukti penghambaan dan dalam rangka menjalin hubungan anatara dirinya dengan penciptanya, memberi contoh kebiasaan meniru yang baik, diasah untuk mulai belajar menghafal, serta di asuh dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Dalam hal pendidikan anak ini, dapat kita melihat konsep seorang ahli agama yaitu Ibnu Qoyyim yang telah menyimpulkan dalam suatu satu bab atas perkara-perkara yang ada dalam pendidikan anak. Seperti:

  1. Anak yang menyusu kepada selain ibu kandungnya baru dapat dilakukan apabila telah mencapai dua atau tiga hari.
  2. Dijaga untuk tidak banyak membawa anak keluar hingga berusia 3 bulan atau lebih, dengan alasan masih lemahnya badan anak.
  3. Penyapihan anak, dilakukan dengan bertahap.
  4. Sebaiknya makanan diberikan secara bertahap. 
  5. Kedua orang tua tidak merasa berat dan susah atas tangisan dan teriakan anak.
  6. Anak dijaga dari pandangan yang galak atau suara yang keras dan kasar.
  7. Anak jangan dipaksa berjalan sebelum waktunya.
  8. Makruh bila suami mendatangi istrinya saat menyusui.

Ibnu Qoyyim juga menerangkan masalah pendidikan kemampuan dan perkembangan anak setelah pengajaran kepadanya akan perkara agama dan sikap takut kepada Allah SWT.

HAMBATAN DALAM PROSES PENDIDIKAN

Dalam buku “Pasca Indonesia , Pasca Einstain (1999)” karya YB Mangun Wijaya menulis komentar mengenai dunia pendidikan di Indonesia, bahwa pendidikan yang ada tidak mengajarkan anak untuk berfikir eksploratif dan kreatif. Proses pembelajaran semua bersifat hafalan, siswa juga tidak dididik tetapi di-drill, di latih agar menjadi penurut.

Dengan suasana seperti itu, berakibat cakrawala pikir peserta didik menyempit, mengarah kepada sifat fasisme, menyuburkan mental perampok yang menghambat kemajuan bangsa. Sikap fasis yang menafikkan keluruhan akal budi, menjauhkan diri dari perilaku hidup yang menjunjung martabat kemanusiaan dan nilai-nilai agama. Fenomena tersebut terlahir sebagai sebagai imbas dari sistem pendidikan yang gagal dalam membangun generasi. 

PRIORITAS PENDIDIKAN YANG ISLAMI

Jika kita melihat kembali dari sisi kultural, keberhasilan Rasulullah SAW dalam mendidik masyarakat Arab waktu itu adalah dengan mewujudkan penyelamatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Kesuksesan yang diperlihatkan oleh Rasulullah SAW yang jelas adalah keberhasilannya membawa masyarakat Jazirah Arab ke jalan yang diridhai Allah SWT. Tetapi yang lebih penting lagi ialah bagaimana membina keluarga sehingga terwujud keluarga sakinah, mawaddah, warrohmah.

Berkenaan dengan prioritas materi pendidikan yang semestinya diberikan dalam pendidikan anak-anak, kita bisa mengambil contoh dari kisah Rasulullah SAW ketika mendapatkan putra bernama Ibrahim. Kala itu, Rasulullah SAW berharap nanti putranya bisa meneladani kepribadian dan perangai agung Nabi Ibrahim AS. Selama hidupnya, Ibrahim tidak jarang dididik oleh Rasulullah dengan bermacam-macam ilmu pengetahuan supaya fitrahnya yang berupa kemuliaan tetap terjaga sekaligus bida berkembang maksimal.

Menurut Rasulullah SAW, supaya keutamaan dan kemuliaan yang terdapat pada seorang anak dapat dipertahankan, maka pendidikan aqidah sebagai proses pengenalan dasar keyakinan terhadap kekuasaan Allah SWT harus diutamakan. Karena dengan pendidikan Aqidah ini akan membawa anak sehingga mempunyai budi pekerti yang agung, baik kepada Allah SWT, lingkungan sekitar maupun kepada dirinya sendiri. 

Proses awal pembentukan aqidah pada diri anak akan memberi kesan yang mendalam pada tingkat yang selanjutnya. Oleh karena itu, pembentukan suasana religius pada awalnya dapat diperoleh dari pengalaman yang berulang dalam suasana dan pemeliharaan yang baik dalam keluarga.

Aqidah merupakan nilai yang inti atau abstrak yang bisa menjadi model dari tingkah laku anak di fase berikutnya. Jika aspek aqidah ini tumbuh dengan baik, ia akan menentukan sikap dan tindakan secara integral atau menyeluruh. Sebagaimana ketika menyikapi agama, harta, dan kehidupan.

KONSEKUENSI DAN KONSISTENSI DALAM MENDIDIK

Dalam setiap sendi kehidupan termasuk dalam proses pendidikan, tidak bisa terlepas dari yang namanya konflik dan pertentangan. Pertentangan yang terjadi pada anak didik bisa menyebabkan konflik dalam dirinya sehingga pada akhirnya digunakan sebagai alasan untuk tidak mematuhi atau melakukan apa yang dianjurkan atau diperintahkan oleh pendidiknya.

HUKUMAN SEBAGAI PROSES PENDIDIKAN BAGI ANAK

Dalam pembahasan masalah sub judul ini, kita dapat mencontohkan beberapa macam hukuman sebagai cara untuk mendidik kepada buah hati di saat ada permasalahan yang timbul.


  1. Lemah Lembut Dan Kasih Sayang
  2. Menjaga Tabiat Anak Yang Salah Dalam Menghukum
  3. Hukuman Hendaknya Bertahap


  • a. Menunjukkan Kesalahan Dengan Pengarahan
  • b. Menunjukkan Kesalahan Dengan Keramahtamahan
  • c. Menunjukkan Kesalahan Dengan Memberi Isyarat
  • d. Menunjukkan Kesalahan Dengan Kecaman
  • e. Menunjukkan Kesalahan Dengan Memutuskan Hubungan
  • f. Menunjukkan Kesalahan Dengan Memukul


BAB III (Chapter III)
KISAH ANAK YANG BERBAKTI ATAU DURHAKA SERTA BALASANNYA

Sebelum Siti Hajar menikah dengan Nabi Ibrahim AS, ia sudah berkhidmat pada keluaraga Nabi Ibrahim AS dan Siti Sarah. Melihat Siti Hajar mempunyai pribadi yang agung, juga melihat dirinya yang tak kunjung mempunyai momongan, Siti Sarah mempunyai pemikiran bahwa ia rela jika Nabi Ibrahim AS menikahi Siti Hajar. 

Lika-liku perjalanan panjang terjadi dimulai dari ditinggalkannya Siti Hajar oleh Nabi Ibrahim AS ditanah yang gersang atas perintah Allah SWT, hingga perjuangan berat yang dilalui oleh Siti Hajar untuk bertahan hidup bersama Ismail AS. Semenjak itu, Ismail dibesarkan dengan kesabaran yang tinggi. Diajarkan untuk selalu mengingat kebesaran Tuhan (Allah SWT), mensyukuri setiap nikmat yang diberikan-Nya, serta dididik untuk senantiasa patuh dan berbakti kepada orangtuanya.

Hingga akhirnya sampailah ketika Ismail AS beranjak dewasa dan bertemu kembali dengan sang ayah, Nabi Ibrahim AS. Kembali ujian harus diterima kedua insan yang bertaqwa ini. Allah SWT mencoba mengukur kesabaran yang dimiliki oleh mereka. Ismail AS harus nrela disembelih oleh ayahnya sendiri yang baru saja ditemuinya.

Karena pendidikan yang diberikan kepada putranya itu membuat Ismail AS tidak menolak sedikitpun perintah dari Allah SWT. Bahkan dengan tegas sebagaimana yang dituliskan dalam Al-Quran, menyuruh ayahnya untuk segera melaksanakan perintah dari Allah SWT dengan berharap dirinya termasuk golongan yang benar-benar bertaqwa.

Sebagai hasil dari kesabarnnya yang dimiliki, dan pendidikan yang dilakukan terhadap putranya itu membuahkan hasil berupa:

  1. Turunnya Wahyu Allah SWT yang memerintahkan kepada malaikat untuk mengganti jasad Ismail AS dengan domba.
  2. Terbentuknya satu keluarga yang patuh dan sabar, hidup bahagia sampai akhir hayat.
  3. Munculnya generasi selanjutnya yang benar-benar kuat dan tangguh.

----
That's the article about "Contoh Format dan Sistematika Tugas Resume Buku, Mata Kuliah Pendidikan Islam". Hopefully useful and can help all colleagues.

0 komentar